Kumpulkan Donasi Rp 200 Juta, Tompi Salurkan untuk Korban Gempa Aceh

Kumpulkan Donasi Rp 200 Juta, Tompi Salurkan untuk Korban Gempa Aceh

Kumpulkan Donasi Rp 200 Juta, Tompi Salurkan untuk Korban Gempa Aceh

Penyanyi jazz, Tompi terus meng-update perkembangan donasi bantuan untuk korban gempa di Aceh, yang dikumpulkan bersama alumni Kami Mosa Aceh.

Dia berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 200 juta untuk disalurkan langsung ke korban yang terkena dampak gempa.

Alhamdulillah dana donasi sementara mencapai 200-an juta. Terimakasih kepada semua donatur.

Pelantun Sandiwara ini mengatakan bahwa donasi tersebut langsung diserahkan kepada korban gempa yang berada di Aceh.

Seperti diketahui, beberapa hari lalu Tompi menyampaikan rasa prihatin dengan bencana gempa yang menimpa tanah kelahirannya, Aceh pada Rabu (7/12) pagi.

Bahkan pria yang juga berprofesi sebagai dokter ini mengunggah foto bertuliskan Bantuan Donasi Gempa Aceh lewat Instagram miliknya.
Tujuan Tompi yakni mengajak netizen memberikan bantuan kepada korban gempa.

Baik berupa makanan, pakaian, obat-obatan, maupun uang tunai.

Teman-teman, kondisi di Aceh pasca-gempa 6,4 SR sangat memprihatinkan. Kebutuhan akan logistik makanan, pakaian bersih, air bersih, obat-obatan, pembalut wanita saat ini sangat dibutuhkan. Saya bersama teman-teman alumni Kami Mosa Aceh, membantu pengaturan bantuan, yang Insya Allah akan kami salurkan lansung ke lokasi gempa. Terima kasih.

Galau Maksimal, Tompi Cerita Soal Cinta Bertepuk Sebelah Tangan di MV ‘Sandiwara’

Galau Maksimal, Tompi Cerita Soal Cinta Bertepuk Sebelah Tangan di MV 'Sandiwara'

Galau Maksimal, Tompi Cerita Soal Cinta Bertepuk Sebelah Tangan di MV ‘Sandiwara’

Lama tidak meluncurkan album, Tompi kini muncul dengan karya baru. Penyanyi yang juga berprofesi sebagai dokter bedah plastik ini merilis album bertajuk “Romansa”.

Tidak lama berselang, Tompi pun kembali memanjakan fans dengan merilis MV “Sandiwara”, salah satu lagu yang ada dalam album “Romansa”. Bercerita soal cinta yang bertepuk sebelah tangan, video ini mendapuk sepasang pria dan wanita sebagai bintang.

Keduanya diceritakan sebagai pasangan yang tidak terlalu harmonis. Sang pria bahkan mengagumi wanita lain yang bukan pasangannya.

Beberapa adegan perselisihan pun ditampilkan dalam video ini. Sementara itu, suara merdu Tompi terdengar sebagai backsound dan menimbulkan kesan galau semakin kental di video tersebut.

Album “Romansa” resmi dirilis penyanyi berusia 38 tahun ini pada 2 November lalu. Tidak sepenuhnya sendiri, dalam album ini Tompi juga diketahui berduet dengan Dian Sastro membawakan “Bawa Daku”.

 

Biodata dan Profil Lengkap Tompi Dengan Foto Terbaru

Biodata dan Profil Lengkap Tompi Dengan Foto Terbaru

Biodata dan Profil Lengkap Tompi Dengan Foto Terbaru

Teuku Adifitrian atau yang dikenal dengan Tompi adalah seorang dokter yang juga penyanyi dan presenter Indonesia. Dia berprofesi sebagai dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan meraih gelar spesialis bedah plastik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2010. Namun, karena kecintaan dan kemampuannya bermusik dia menjadikan bermusik sebagai pekerjaan sampingan yang menyenangkan

Dia lahir dan besar di kota Lhokseumawe Aceh, sehingga karakter vokalnya pun dipengaruhi oleh nyanyian tradisional Aceh dan teknik mengaji Al-Qur’an. Setelah sempat tampil diberbagai cafe dan bergabung dalam beberapa grup, akhirnya kemampuan bernyanyi dengan ciri khas Tompi pun diakui oleh para pendengar musik. Dia bahkan masuk dalam jajaran penyanyi top Indonesia.

Perjalanan karir bermusik Tompi awalnya ketika dia tampil bernyanyi pada kegiatan kampus. Olah vokalnya terus terbentuk sejak perjumpaannya dengan Bertha dan Tjut Deviana. Selain bernyanyi, ternyata Tompi juga piawai dalam menciptakan lagu. Di waktu senggang dengan bantuan alat perekam kecil atau telepon genggamnya ia pun menciptakan lagu. Inspirasi pembuatan lagunya didapatkan dari berbagai suasana sekitar atau berdasarkan pengalaman pribadi dari orang-orang terdekatnya.

Saat ini dia tergabung dalam Trio Lestari bersama Sandhy Sondoro, dan Glenn Fredly. Dengan menggabungkan karakter suara berbeda, mereka bertiga mampu menghipnotis para pendengarnya. Mereka bahkan punya acara sendiri Live With Trio Lestari yang merupakan acara talkshow terbaru yang dipadukan dengan musik dan lagu yang saling berhubungan.

Pria yang mulanya ingin menjadi insinyur ini mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Arti Indira pada 1 September 2006. Sebelumnya Mereka telah menjalin kasih selama 6 tahun. Dari pernikahan tersebut mereka telah memiliki tiga orang anak.

Berikut profil dan biodata lengkap dari Tompi 
Nama Lengkap : Teuku Adifitrian
Nama Panggilan : Tompi
Tempat Tanggal Lahir : Lhokseumawe, 22 September 1978
Pekerjaan : Penyanyi, Presenter, Dokter
Agama : Islam
Twitter : dr_tompi
Instagram : dr_tompi

Album dan Single yang dirilis
Cherokee (2003)
Bali Lounge (2004)
T (2005)
Soulful Ramadhan (2006)
Playful (2007)
My Happy Life (2008)
Paris Jakarta Express (2009)
Tak Pernah Setengah Hati (2010)
Sounds of Ramadhan (2011)

Acara TV yang dibintangi
Tompi and Friends
Trio Lestari

Ditawari Jadi Walikota di Aceh, Ini Kata Tompi

Ditawari Jadi Walikota di Aceh, Ini Kata Tompi

Ditawari Jadi Walikota di Aceh, Ini Kata Tompi

Jakarta – Sibuk dengan karier di musik dan profesi sebagai dokter, kini Tompi juga disibukkan oleh dunia fotografi. Belum lama ini, ia juga terlibat di dunia politik dengan tampil dan menyuarakan dukungan untuk Ahok.

Lalu apakah Tompi tertarik untuk terjun langsung ke dunia politik? Pria kelahian Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978 ini mengaku tidak punya rencana untuk melakukannya.

Tompi Pilih Bahas Kinerja Gubernur DKI Jakarta
“Untuk lima tahun ke depan belum kepikiran sama sekali. Saya enggak punya plan buat terjun ke politik. Saya bukan mewakili partai manapun.

Namun pria bernama asli Teuku Adifitrian itu mengaku pernah mendapat tawaran untuk menjadi pemimpin daerah di Aceh yang merupakan tempat kelahirannya. Pernah ada yang minta saya jadi walikota di Aceh.

Tapi anggota Trio Lestari ini mengatakan belum siap dan merasa belum ada kemampuan untuk mengemban tanggung jawab besar tersebut. Mending motret dan nyanyi.

Eksklusif, Tompi Membuka Jalan Dian Sastrowardoyo di Dunia Musik

Eksklusif, Tompi Membuka Jalan Dian Sastrowardoyo di Dunia Musik

Eksklusif, Tompi Membuka Jalan Dian Sastrowardoyo di Dunia Musik

Eksklusif, Tompi Membuka Jalan Dian Sastrowardoyo di Dunia Musik

Saat menyebut nama Tompi, mungkin sebagian besar pencinta musik tanah air akan langsung mengaitkannya dengan musik jazz. Memang, saat pertama kali muncul ke industri musik Indonesia, lagu Selalu Denganmu miliknya langsung memalingkan pandangan penikmat musik lewat suara khas yang dibalut musik ‘kalem’ nan groovy di telinga.

Tompi, lewat album musik pertamanya berjudul T yang dirilis pada tahun 2005 seolah menjadi daya tarik tersendiri di tengah maraknya lagu-lagu bernada melayu yang berjejal di telinga pendengar musik Indonesia kala itu. Nama Tompi pun seolah menjadi simbol jika musik jazz bukan hanya musik komunitas, tapi juga bisa mendobrak persaingan di industri musik tanah air.

Cara Tompi Ajak Dian Sastrowardoyo Berduet di Lagu ‘Bawa Daku’
Setelahnya, hampir setiap tahun Tompi selalu menelurkan album yang konsisten dengan irama jazz yang kental. Lagu-lagu seperti Salahkah, Menghujam Jantungku, Sedari Dulu, Tak Pernah Setengah Hati merupakan beberapa lagu lain yang turut membesarkan pemilik nama lengkap Teuku Adifitrian itu di industri musik Indonesia.

Tidak ayal, keberadaan Tompi pun semakin diperhitungkan sebagai musisi yang tidak terbawa oleh arus industri. Dan seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan suksesnya beberapa lagu yang dinyanyikan, Tompi seolah dinobatkan sebagai salah satu generasi penganut musik jazz yang sukses menembus industri mainstream yang identik dengan musik pop.

Tidak sampai di situ, nama Tompi juga semakin harum saat di tahun 2010 dirinya meraih gelar dokter spesialis bedah plastik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal itu tentunya kembali mendobrak citra musisi yang tidak melulu harus mengabaikan pendidikan demi meraih karirnya. Tompi menjadi bukti bila karir bermusik dan pendidikan dapat berjalan beriringan.

Berbicara soal musik jazz yang kadung melekat padanya, pria 38 tahun itu mengatakan tidak secara sengaja membangun citra diri sebagai seorang musisi jazz. Sejak awal terjun, dia hanya berusaha untuk konsisten terhadap musik yang digemarinya.

Sebenarnya dari awal saya nggak pernah mentasbihkan diri sebagai penyanyi jazz, cuma entah kenapa market industri seolah-olah menempatkan saya di sana. Saya berusaha bermusik secara jujur aja. Saya nggak terlalu senang musik yang huru-hara. Saya memang senang musik yang lebih kalem dan mungkin konsistensi itu yang dianggap, karena saya memang nyamannya di situ.

Lantas, bagaimana bentuk kecintaannya terhadap musik jazz, termasuk soal keberhasilan mengajak Dian Sastrowardoyo untuk menjadi teman duet di single terbarunya? berikut Tompi membeberkan semuanya lewat sebuah.

Duet dengan Dian Sastrowardoyo
Di tahun 2016 ini, musikalitas seorang Tompi kembali dengan menggarap sebuah album yang berjudul Romansa. Salah satu suguhan spesial sang dokter bedah di album terbarunya ini adalah berhasil mengajak aktris sekelas Dian Sastrowardoyo untuk berputar haluan dari dunia akting menjadi teman duetnya dalam single yang berjudul Bawa Daku.

Bagaimana prosesnya setelah sekian lama akhirnya meluncurkan album di tahun ini?

Sebenernya ini (album Romansa) sudah saya selesaikan sekitar satu setengah tahun yang lalu, cuma baru kita launching beberapa minggu yang lalu. Kenapa baru saya launching? Karena memang selama satu setengah tahun itu saya cari format album ini mau dikeluarin dalam bentuk apa sih? Industri musik kita kan lagi berantakan. Toko CD semua pada tutup, penjualan fisik juga sangat terbatas sekali, satu-satunya jalan cuma digital. Jadi saya coba cari format untuk launchingnya juga nggak mau yang konvensional. Sampai akhirnya saya punya ide buat bikin pameran foto, ya udah sekalian saya launching albumnya.

Bawa Daku itu sebuah lagu yang konsepnya urban banget, genrenya urban pop. Sebenernya ceritanya klise lah, tentang cinta. Orang kan kalau udah jatuh cinta mau dibawa kemana aja ngikut. Cuma yang menarik dari lagu ini adalah ada dua versi, salah satunya versi saya duet sama Dian Sastrowardoyo.

Seorang Tompi berhasil mengajak Dian Sastrowardoyo untuk kolaborasi, bagaimana cerita awalnya?

Jadi emang begitu lagu ini (Bawa Daku) jadi, saya kepikiran pengen duet sama satu penyanyi, awalnya ada beberapa nama yang muncul sampe akhirnya saya coba Dian (Sastrowardoyo) dulu. Saya coba karena saya tahu Dian bisa nyanyi, cuma memang dia kan bukan penyanyi, maksudnya secara profesional tidak muncul sebagai penyanyi, tetapi saya tahu dia penyanyi yang bagus. Dan kebetulan kita ada good deal di sini, karena seluruh pendapatan dari lagu itu kita akan serahkan ke yayasan pendidikan yang Dian bantu, jadi ada misi sosialnya. Hal itu makin mempermudah Dian untuk tidak menolak.

Apa benar dalam prosesnya Anda merekam secara diam-diam suara Dian Sastrowardoyo?

Dian memang suka nyanyi, dia seneng banget nyanyi, cuma memang dia belum pernah memutuskan terjun sebagai penyanyi. Saat itu saya telepon, coba ngobrol, dia mau coba, materinya saya kirim, ya udah terus dia datang ke rumah coba-coba nyanyi sambil baca lirik, padahal sudah saya rekam. Jadi pas dia selesai coba-coba terus dia bilang ‘ayo mulai’ saya bilang, ‘nggak usah, udah gua rekam tadi’. Jadi udah dapat yang saya mau, ya udah cukup segitu.

Pertimbangan apa yang membuat Tompi memutuskan mengajak Dian Sastrowardoyo?

Iya memang sebelumnya sempat ada beberapa nama (penyanyi), cuma saya pikir ini akan lebih menarik isunya bila Dian dan ikut, makanya pas Dian bilang ‘oke’, ya udah ini kayak gayung bersambut buat saya dan saya beruntung lah dapetin Dian di sini.

Dian Sastrowardoyo bukan seorang penyanyi profesional, adakah kendala yang muncul selama proses?

Dian orangnya asyik sih yak, easy going, dan nggak terlalu ribet, nggak yang terlalu technical banget. Jadi ngalir banget prosesnya.
Setelah ini ada project apa lagi?

Ada beberapa project yang lagi saya siapin sih. Ada project yang berbau etnik, ada project yang berbau grup kecil gitu. Itu belum dapat saya ungkap karena belum kejadian. Nanti kalo udah jadi baru kita ungkap biar afdol.

Musik Jazz di Mata Tompi
Lebih dari satu dekade berkarir sebagai musisi jazz, Tompi mengaku bila dia tidak pernah sekalipun mendeklarasikan bila dirinya merupakan seorang musisi jazz. Diakuinya, predikat musisi jazz yang saat ini melekat padanya merupakan sebuah penghargaan dari masyarakat musik tanah air atas konsistensinya yang jujur berkomunikasi lewat musik yang mempengaruhi kehidupannya sebagai dokter bedah dan ayah dari satu orang anak.

Menjalani karir bermusik sebagai solois dan grup. Kalau harus pilih, lebih nyaman yang mana?

Beda, saya nggak bisa compare sih. Kalau kita sendiri memang ada kemerdekaan kita mau ngapa-ngapain aja terserah. Tetapi saat bertiga kita kayak punya senjata yang lebih besar gitu, dan kepentingannya juga udah beda, seru sih.

10 tahun lebih berkarir apa yang membuat anda konsisten di jalur jazz?

Sebenarnya saya kayak terperangkap aja sih. Saya dari awal nggak pernah menasbihkan diri sebagai penyanyi jazz, cuma entah kenapa market industri seolah-olah menempatkan saya di sana (sebagai penyanyi jazz). Dan lucunya setiap album yang saya keluarin seolah itu album jazz, padahal nggak pure jazz, jadi mungkin karena pasarnya beranggapan demikian.

Tompi Punya Prinsip Hidup Apa Adanya

Tompi Punya Prinsip Hidup Apa Adanya

Tompi Punya Prinsip Hidup Apa Adanya

Sekilas, melihat sosok Tompi, pasti tidak ada yang mengira kalau karakter aslinya adalah pendiam. Penyanyi pop jaz ini mengaku susah bergaul dengan orang baru. Jika orang baru itu tidak banyak bicara, otomatis Tompi akan diam seribu bahasa.

“Saya sulit bergaul dengan orang atau lingkungan baru. Kalau ada teman yang mengenalkan saya pada orang baru, saya tidak dapat langsung ngobrol. Saya biasanya menunggu reaksi dari orang baru itu. Jika diajak ngobrol, baru saya tanggapi.

Terlepas dari pembawaan Tompi yang pendiam, pada dasarnya pria kelahiran Aceh ini memiliki prinsip hidup yang santai. Dia menjalani hidup apa adanya. Bahkan, karena akan menikmati hidup dengan santai, Tompi sengaja menyetel musik saat bekerja di ruang operasi.

Penyanyi kelahiran 22 September 1978 ini beranggapan musik dapat membuat hidup siapa saja menjadi lebih rileks. Pembawaan Tompi yang santai dalam menikmati hidup, juga tergambar dari lagu-lagu yang dia ciptakan. Aransemen musik yang dipilih Tompi pun sesuai karakter diri, yakni pop jaz.

Tidak heran, hampir semua pasien yang datang padanya, merasa nyaman untuk konsultasi dan bertukar pikiran. “Saat berada di ruang operasi, saya berusaha santai. Jika saya tegang, nanti malah operasinya tidak berjalan lancar. Nah, saat berkonsultasi dengan pasien pun, saya ciptakan suasana santai. Jadi, pasien yang datang tidak merasa tersudut dengan penyakitnya,” urai Tompi.

Terkait dengan imej Tompi sebagai dokter kecantikan dan penyanyi solo, dia mengaku tidak pernah jaga imej. Saat bernyanyi di atas panggung, Tompi mampu mencairkan suasana. Terbukti saat ia tampil bersama Trio Lestari (Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Tompi), hanya ia yang aktif melempar umpan joke.

Sementara dua rekannya hanya menerima atau menanggapi lelucon dari Tompi. Bagi Tompi, jaim (jaga imej) itu tidak perlu. Orang jaim, biasanya menyembunyikan banyak hal-hal buruk. Karena itu, Tompi selalu tampil apa adanya. Bila ia suka meledek teman dekatnya, itu hanyalah lelucon, dan Tompi suka melakukannya.

“Kalau dengan teman dekat, saya berani melempar ledekan. Semisal, dengan Glenn, sudah biasa saya bercanda dengan dia. Untungnya, sejak berteman dengan Glenn, saya tidak pernah jaim. Jadi Glenn tahu apa adanya Tompi,” katanya.

Selain bercanda dan meledek teman dekat, ada satu kegiatan lagi yang selalu dilakukan Tompi dan sang istri. Demi melepas penat atau sekadar mencari hiburan, biasanya Tompi dan istri berburu film-film terbaru di bioskop. Bila ada film luar negeri yang layak ditonton, dia dan sang istri tidak pernah pikir panjang untuk pergi ke bioskop.

Bahkan, bila film yang diputar dinilai bagus, Tompi akan langsung membeli DVD untuk dikoleksi. Maniak menonton di bioskop, diakui Tompi sudah dilakukan sejak dulu. Baginya, menonton di bioskop tidak hanya menikmati cerita yang disajikan. Saat menonton pun, Tompi berusaha mengamati setiap detail yang ditampilkan sang sutradara dan produser.

“Pokoknya saya tidak mau asal menonton saja. Harus ada yang dipetik dari setiap film yang saya tonton,” ungkap Tompi.

Tompi Cerita Kesibukan Barunya di Dunia Fotografi

Tompi Cerita Kesibukan Barunya di Dunia Fotografi

Tompi Cerita Kesibukan Barunya di Dunia Fotografi

Tompi Cerita Kesibukan Barunya di Dunia Fotografi
Selain menjadi dokter dan penyanyi, Tompi tengah disibukkan dengan kegiatan barunya. Setahun belakangan ia sedang gemar mengabadikan momen dalam bingkai foto.

Hampir di setiap waktu, Tompi selalu membawa kamera kesayangannya. Bahkan hobi barunya itu sudah menjadi profesi lain bagi pelantun ‘Menghujam Jantungku’ itu.

“Sudah ada beberapa kerjaan yang datang ke kita. Jadi kerjaan sudah mulai numpuk dan kita mulai nambah tenaga temen-temen yang dapat bergabung dengan temen kita yang lain,” ucap Tompi di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2016).

Saat ini, Tompi mengaku dirinya begitu menikmati menjalani tiga pekerjaan yang berebda. Ia bahkan harus merelakan waktu istirahatnya berkurang.

Bisa dibilang enak ya enakan motret, nggak ada beban apa-apa kan. Tapi ya yang namanya kerja sebagai dokter kan ada moril lain, nggak hanya urusan motong terus dapet duit.

Pesona Vokal Sang Dokter

Pesona Vokal Sang Dokter

Pesona Vokal Sang Dokter

Suaranya khas, gaya panggungnya atraktif, penampilannya modis dengan topi yang selalu dikenakannya. Itulah Teuku Adi Fitrian atau yang beken dengan nama Tompi. Putra Aceh yang juga berprofesi sebagai dokter ini tidak hanya mahir mengolah vokal, tetapi juga ahli menulis lagu.

Tompi

Penyanyi kelahiran 22 September 1978 ini menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajanya di tanah kelahirannya, Lhokseumawe, Nanggroe
Aceh Darussalam. Sebagai putra daerah Aceh, Tompi sangat mencintai adat istiadat leluhurnya. Hal itu dapat dilihat dari hobinya melantunkan lagu-lagu daerah Bumi Serambi Mekah itu yang di kemudian hari amat mempengaruhi gaya bernyanyinya. Dia juga aktif berkesenian di sanggar tari
Aceh, dimana dia mempelajari tari sambil bernyanyi dan bermain gendang.

Setamat SMA tepatnya di tahun 1997, Tompi hijrah ke ibukota guna meneruskan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selepas merampungkan kuliahnya, gelar sebagai dokter umum pun diraihnya. Tetapi predikat tersebut rupanya tidak serta merta membuatnya cepat berpuas diri. Dia kemudian mengambil spesialisasi bedah plastik untuk mewujudkan impiannya menjadi dokter bedah plastik yang handal.

Hobinya bernyanyi tetap dia lakukan saat di bangku kuliah. Bermula dari kegiatan kegiatan kampus, Tompi mulai memberanikan diri untuk tampil memamerkan kebolehannya dalam berolah vokal. Melalui perjumpaannya dengan beberapa nama besar di bidang seni musik dan tarik suara seperti Bertha dan Tjut Deviana, kemampuan menyanyinya mulai terbentuk. Hingga akhirnya, suatu kali dia mendapat tawaran untuk tampil menyanyi di The Bar, Four Season Hotel. Sejak saat itulah, Tompi mulai merintis karirnya sebagai
penyanyi profesional.

Dia pernah menjadi vokalis grup band bernama Cherokee. Saat itu bersama Cherokee, dia tampil di Singapura selama 3 hari berturut turut. Penampilannya langsung mencuri hati publik negeri Singa itu sehingga julukan SuperVocalist atau SuperSound pun disematkan pada sosok pria berkulit gelap itu.

Setelah debutnya dengan Cherokee, Tompi hijrah ke band lain, Bali Lounge. Semasa menjadi vokalis band yang mengusung warna musik etnis modern itu, kemampuan olah vokal Tompi kian terasah. Dari berbagai cerita dan pengalaman manggung di berbagai tempat itu, muncul keinginan dalam benaknya untuk membuat album solo.

Jika banyak penyanyi yang menghabiskan waktu hingga bertahun-tahun untuk membuat sebuah album, tidak demikian halnya dengan Tompi. Untuk menggarap album perdananya, dia hanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Proses rekaman dan mastering dilakukan di Jakarta, sedangkan untuk mixing dikerjakan di Singapura.

Pada Juli 2005, impian Tompi pun terwujud seiring dengan dirilisnya album berjudul ‘T’. Album tersebut berisikan 12 lagu yang terdiri dari 6 lagu berbahasa Indonesia dan 6 lagu berbahasa Inggris. Menurut si
penyanyi, album ini memiliki pesan cinta yang sangat indah yang disajikan dalam berbagai mood, baik itu suka, duka, ceria maupun sedih.
Hebatnya lagi, sebagian besar lagu yang ada dalam album beraliran pop
jazz ini merupakan hasil ciptaannya sendiri. Rupanya selain piawai bernyanyi, ia juga cukup lihai menciptakan lagu. Hal itu diakuinya sebagai sarana untuk mengembangkan musikalitasnya. Dengan bantuan alat perekam kecil atau telepon genggamnya, Tompi menciptakan lagu di sela-sela waktu senggangnya. Inspirasi yang dia miliki bisa berasal dari mana saja, mulai dari suasana sekitarnya, pengalaman pribadi dari orang-orang terdekatnya, hingga pengalaman pribadinya.

Dengan dirilisnya ‘T’, Tompi berharap karyanya dapat diterima dengan baik oleh pecinta musik Indonesia. Harapannya tidak meleset, album itu cukup mendapat sambutan dari masyarakat dan berhasil mencetak hits “Selalu Denganmu”. Album ‘T’ meninggalkan kesan mendalam bagi Tompi, karena selain menandai debutnya sebagai penyanyi profesional, dalam proses pembuatannya pun dia banyak dibantu oleh para musisi ternama seperti Louis Pragasm dan Marina Xavier yang menyumbangkan lirik lagu berbahasa Inggris.

Sebagai seorang muslim, Tompi juga menggunakan talentanya dalam bernyanyi dan menciptakan lagu bernuansa Islami. Maka, bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1427 H, Tompi meluncurkan album bertajuk Soulful Ramadhan, dengan dua tembang andalan yakni ‘Ramadhan Datang’ dan ‘Muhammad Tlah Mengajarkan Kita’. Album rohani yang berisi 10 lagu ini menghadirkan sentuhan modern irama lounge namun tetap bernuansakan padang pasir yang lekat dengan suasana Ramadhan.

Irama lounge yang dia hadirkan dalam album yang rilis tahun 2006 ini bertujuan untuk menarik perhatian anak-anak muda agar semangat dalam menjalani ibadah di bulan suci. Sama seperti album sebelumnya, Soulful Ramadhan hanya memakan waktu sekitar 2 minggu, mulai dari ide penciptaan sampai dengan mixing dan masteringnya. Yang unik dan semakin membuat album ini bertambah ‘kaya’ adalah kehadiran dua lagu berbahasa daerah Aceh, yakni ‘Doa untuk Aceh’ dan ‘Salam’.

Lagu-lagu berbahasa daerah itu tentu bukan tanpa maksud, selain memang tidak pernah melupakan asal muasalnya, Tompi juga secara khusus menciptakan lagu-lagu tersebut untuk membangkitkan semangat rakyat Aceh yang kala itu baru saja tertimpa musibah tsunami yang amat dahsyat.

Selain guru vokal ternama, Bertha, ada sederet nama lain yang turut membantu Tompi menggarap album keduanya itu. Mereka adalah Kevin Wahl, Ayi, Bibus, Yudhis, Bang Sa’ad, dan Michael Patto.

Dua albumnya tadi berhasil membawa namanya masuk ke dalam daftar nominasi di 2 kategori AMI Awards 2006 sekaligus, yakni Kategori Karya Produksi Terbaik Bidang Rhythm & Blues dan Kategori Best of The Best Pendatang Baru Terbaik. Walau gagal meraih tropi, setidaknya dengan keikutsertaannya pada ajang bergengsi untuk para pekerja seni musik itu, cukup membuktikan bahwa eksistensinya sebagai penyanyi sudah layak diperhitungkan.

Usai sukses dengan ‘T’ dan ‘Soulful Ramadhan’, Tompi pada tahun 2007 kembali menyemarakkan blantika musik Indonesia dengan merilis album Playful. Di album ketiganya itu, suami dari Arti Indira ini menjagokan lagu berjudul ‘Salahkah’, sebuah lagu bernuansa pop yang bertemakan tentang cinta dan perselingkuhan. Selain lagu tersebut, ada 12 lagu lain yaitu Balonku, Lulu dan Siti, Jangan Engkau Ganggu Cintaku, Valentine Day, Engkaulah Satu-satunya, T Scat, Aku Tak Mau, Kekagumanku, I Am Falling In Love, Even If, Can You Feel My Music, dan Soft Shoe.

Bila pada album pertama dan kedua didominasi genre musik pop
jazz dan lounge, di album ketiganya ini Tompi tampil sedikit beda dengan warna musik yang lebih beraneka. Keinginan untuk bereksperimen dalam arti mengawinkan unsur-unsur musik Rock, Pop,
jazz, Funk, Hip-Hop dan Soul dapat dirasakan dalam album ini, seolah-olah seperti bermain-main dengan musik. Karena itulah, album ini diberi nama Playful.

Selain itu, di album ini para penikmat karyanya dapat melihat sisi kekanak-kanakan dari ayah Teuku Omar Dakari ini, yang tercermin dari sebuah
lagu anak-anak yang amat tersohor, ‘Balonku’. Lagu yang dijadikan sebagai lagu pembuka dalam album ini, disulapnya menjadi lebih segar dengan aransemen baru yang enak didengar.

Selain itu, dia juga menonjolkan sisi melankolisnya pada lagu ‘Kekagumanku’. Lagu yang mengekspresikan kekagumannya pada sosok ibu itu memang sengaja dipersembahkannya untuk ibundanya tercinta. Album ini semakin berwarna dengan kehadiran dua buah lagu yang mengangkat tema cinta komedi, yakni lagu ‘Lulu dan Siti’ dan ‘Aku Tak Mau’.

Secara keseluruhan, aransemen lagu dalam album Playful turut diperkaya dengan aransemen vokal. Karakter vokal yang kuat khas Tompi dapat dirasakan di setiap lagu. Selain itu, lirik-lirik cinta yang diusung pun terbilang sederhana namun tidak pasaran.

Di album ketiganya ini, Tompi tidak hanya bertindak sebagai penyanyi, tetapi juga produser, penulis lagu, sekaligus backing vokal yang dikerjakannya sendiri.

Setahun kemudian, Tompi kembali hadir dengan karya teranyarnya, sebuah album bertajuk My Happy Life, dengan dua tembang andalan Sedari Dulu dan Menghujam Jantungku. Album tersebut digarapnya di sela-sela jadwal prakteknya sebagai dokter umum. Di album keempatnya ini, Tompi kembali ke ‘habitat’ musik lamanya, Jazz.

Keberhasilannya menjalani dua profesi sekaligus, rupanya semakin membuat Tompi tertantang untuk mencoba hal baru. Pada pertengahan Juni 2009, setelah dokter dan penyanyi, profesinya bertambah lagi menjadi presenter talk show bernama Tompi and Friends. Namun profesi barunya ini tidak jauh-jauh dari keahliannya di bidang kedokteran dan agar tidak terlalu terkesan serius, acara yang dibawakannya dikemas dengan konsep hiburan.

 

Tompi Akui Saat ini Penyanyi Tak Perlu Label

Tompi Akui Saat ini Penyanyi Tak Perlu Label

Tompi Akui Saat ini Penyanyi Tak Perlu Label

Belajar dari pengalaman menekuni dunia musik, penyanyi Tompi tegas mengatakan, untuk saat ini, memproduksi sebuah lagu siapa pun tidak perlu menggunakan jasa label. Walau terdengar cukup arogan, penyanyi bernama asli Teuku Adifitrian ini menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

“Zaman dulu, kita perlu label karena butuh dapur rekaman. Sekarang saya kira kita enggak lagi membutuhkan label untuk produksi. Mungkin terdengar sombong, tapi kalau temen-temen mengerti, pasti semua akan setuju.

Dia menerangkan, pada zaman dulu, penyanyi membutuhkan label karena butuh dapur rekaman. Faktanya, pada masa sekarang, yang dibutuhkan adalah agar dapur tetap mengebul.

“Serius, saat ini kita cuma membutuhkan laptop, mikrofon, tinggal rekaman. Lalu melakukan mixing sendiri, semua dikerjain sendiri. Kita membutuhkan distributor, tinggal mencari distributor yang representatif, jujur. Lalu, kita suruh dia edarkan, bikin promo,” ujar penyanyi yang dikenal memiliki gaya busana fashionable ini.

Selanjutnya, pria kelahiran Lhokseumawe, 22 September 1978, ini menjelaskan bahwa keberadaan label saat ini memang seharusnya bukan untuk produksi. Kecuali bagi kalangan tertentu yang memang sangat membutuhkan keberadaan label untuk dapat mendongkrak namanya dan tidak tahu bagaimana cara me-manage pembuatan album dengan baik.

“Label itu hanya akan bermanfaat untuk artis sinetron yang mau menyanyi. Jadi, enggak perlu menyanyi, nongol aja, deh. Yang begini baru benar-benar butuh urusan label. Nah, bila musikusnya pinter, dia pasti tidak mau. Dia bakal tahu kalau dirinya dibohongin, sebab dia tahu bagaimana cara me-manage yang benar.”